Kamis, 26 September 2024

MENGHARGAI PERAN LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN

 


Antara Jenis Kelamin (Seks) dan Pembagian Peran (Gender)

    Keberadaan Laki-laki dan Perempuan merupakan dua entitas yang sering dibedakan dalam kondisi Jenis Kelamin (seks) dan peran yang harus dilakukan (gender). Namun seringkali kedua konsep ini (seks dan gender) sering dimaknai sebagai ciri khas yang sama bagi seorang laki-laki atau seorang perempuan. Pemahaman yang seperti itu sering menempatkan laki-laki dan perempuan dalam situasi yang tidak seimbang atau menimbulkan ketidakadilan.

    Seks merujuk  pada  perbedaan  jenis kelamin  yang  pada  akhirnya  menjadikan  perbedaan  kodrati antara laki-laki dan perempuan berdasar pada jenis kelamin yang dimilikinya, bersifat  biologis, berlaku universal dan tidak dapat diubah (misalnya organ tubuh laki-laki dan perempuan)

Tetapi Gender merupakan perbedaan jenis kelamin yang bukan disebabkan oleh perbedaan biologis dan bukan kodrat Tuhan, melainkan diciptakan baik oleh laki-laki maupun perempuan melalui proses sosial budaya yang panjang. Perbedaan perilaku antara pria dan wanita, selain disebabkan oleh faktor biologis, juga sebagian besar justru terbentuk melalui proses sosial dan budaya.

 

Peran Gender

    Dalam keluarga di Indonesia pada umumnya, orangtua atau lingkungan, secara langsung maupun tidak langsung telah mensosialisasikan peran anak laki-laki dan perempuannya secara berbeda. Anak laki-laki diminta membantu orang tua dalam hal-hal tertentu saja, bahkan seringkali diberi kebebasan untuk bermain dan tidak dibebani tanggung jawab tertentu. Anak perempuan sebaliknya diberi tanggung jawab untuk membantu pekerjaan yang menyangkut urusan rumah (membersihkan rumah, memasak, dan mencuci).

    Peran gender terbentuk melalui berbagai sistem nilai termasuk nilai-nilai adat, pendidikan, agama, politik, ekonomi, dan sebagainya. Sebagai hasil bentukan sosial, peran gender dapat berubah-ubah dalam waktu, kondisi, dan tempat yang berbeda sehingga peran laki-laki dan perempuan mungkin dapat dipertukarkan.  Mengurus anak, mencari nafkah, mengerjakan pekerjaan rumah tangga (memasak, mencuci, dan lain-lain) adalah peran yang bisa dilakukan oleh laki-laki maupun  perempuan,  sehingga  bisa  bertukar  tempat tanpa  menyalahi kodrat. 

    Dengan  demikian,  pekerjaan-pekerjaan  tersebut  bisa  kita istilahkan sebagai peran gender. Jika  peran gender dianggap  sebagai  sesuatu  yang  bisa berubah dan  bisa disesuaikan dengan kondisi yang dialami seseorang, maka tidak ada alasan lagi  bagi  kita  untuk  menganggap  aneh  seorang  suami  yang  pekerjaan sehari-harinya memasak dan mengasuh anak-anaknya, sementara istrinya bekerja di luar rumah. Karena di lain waktu dan kondisi, ketika sang suami memilih bekerja di luar rumah dan istrinya memilih untuk melakukan tugas-tugas rumah tangga, juga bukan hal yang dianggap aneh

 

Kesetaraan dan Keadilan Gender

    Kesetaraan gender adalah kondisi dimana perempuan dan laki-laki menikmati status yang setara dan memiliki kondisi yang sarna untuk mewujudkan secara penuh hak-hak asasi dan potensinya bagi pembangunan di segala bidang kehidupan. Dengan kata lain, ini berarti semua manusia punya akses dan kontrol yang wajar dan adil  terhadap sumber daya dan manfaatnya, agar semua orang dapat berpartisipasi di dalamnya, serta memutuskan dan memperoleh manfaat dari pembangunan yang ada.

    Kesetaraan gender memiliki kaitan dengan keadilan gender. Keadilan gender merupakan suatu proses dan perlakuan adil terhadap laki – laki dan perempuan. Sebagaimana ditegaskan oleh ILO (2000) bahwa keadilan gender sebagai keadilan perlakuan terhadap perempuan dan laki-laki, berdasarkan kebutuhan masing-masing. Ini mencakup perlakuan sama atau perlakuan yang berbeda tapi dianggap setara dalam hal hak, keuntungan, kewajiban dan kesempatan. Dengan keadilan gender berarti tidak ada pembakuan peran, beban ganda, subordinasi, marginalisasi dan kekerasan terhadap perempuan maupun laki-laki.

    Dalam beberapa situasi, masih ada orang  yang  masih  berpikir bahwa  membicarakan kesetaraan gender adalah  sesuatu  yang  mengada-ada atau hal  yang  terlalu dibesar-besarkan. Kelompok orang yang berpikir seperti ini menganggap bahwa kedudukan perempuan dan laki-laki dalam keluarga maupun dalam masyarakat memang harus berbeda. Misalnya saja anggapan bahwa “Perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, toh nantinya akan kembali juga masuk dapur”. Dari  ungkapan tersebut sudah dapat kita lihat ada dua hal yang mencerminkan tidak adanya kesetaraan Gender dimana perempuan tidak diberikan kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang berguna bagi dirinya.

    Pemikiran  seperti  ini  umumnya  muncul  terutama  pada  kelompok masyarakat yang masih menganggap bahwa sudah kodratnya perempuan untuk melakukan pekerjaan di dapur. Kita perlu ingat bahwa bukan kodratnya perempuan  untuk  masuk  dapur,  karena  kegiatan  memasak  di  dapur tidak ada kaitannya dengan ciri-ciri biologis yang ada pada perempuan. Kegiatan  memasak  di  dapur  (atau  kegiatan  rumah tangga lainnya)  adalah suatu bentuk pilihan pekerjaan dari sekian banyak jenis pekerjaan yang bisa dilakukan oleh  perempuan  ataupun  laki-laki (misalnya guru, dokter, pegawai negeri, sopir, pedagang, dan lainnya). 

    Selain itu, terminologi kesetaraan gender seringkali  disalahartikan dengan mengambil alih pekerjaan dan tanggung jawab laki-laki. Misalnya bekerja untuk mengangkat barang-barang yang berat, mengganti atap rumah, menjadi nelayan atau berburu di hutan dan lainnya.

Kesetaraan Gender bukan  berarti  memindahkan  semua  pekerjaan  laki-laki  ke tangan perempuan,  bukan  pula  mengambil  alih  tugas  dan  kewajiban seorang suami oleh istrinya. Jika hal ini yang terjadi, bukan ‘kesetaraan’ yang  tercipta  melainkan  penambahan  beban  dan  penderitaan  pada perempuan. 

 

Simpulan

    Pada prinsipnya bahwa kesetaraan gender merupakan anggapan terhadap semua orang pada kedudukan yang sama dan sejajar (adil), baik itu laki-laki maupun perempuan. Dengan mempunyai kedudukan yang sama, maka setiap individu mempunyai hak-hak yang sama, menghargai fungsi dan tugas masing-masing, sehingga tidak ada salah satu pihak yang mereka berkuasa, merasa lebih baik atau lebih tinggi kedudukannya dari pihak lainnya.

    Kesetaraan gender, atau kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, mengacu pada kesetaraan hak, tanggung-jawab, kesempatan, perlakuan dan penilaian atas perempuan dan laki-laki, anak perempuan dan anak laki-laki dalam kehidupan maupun di tempat kerja.                 Kesetaraan Gender adalah  kebebasan  memilih peluang-peluang  yang  diinginkan  tanpa  ada  tekanan  dari  pihak  lain, kedudukan dan kesempatan yang sama di dalam pengambilan keputusan dan  di  dalam  memperoleh  manfaat  dari  lingkungan. Dalam situasi yang setara ini tidak adanya diskriminasi berdasarkan jenis kelamin seseorang dalam memperoleh kesempatan dan alokasi sumber daya, manfaat atau dalam mengakses pelayanan.

Minggu, 01 September 2024

CARA MENCIPTAKAN PERGAULAN DENGAN BAIK

Pergaulan merupakan proses interaksi yang dilakukan oleh individu dengan individu, dapat juga oleh individu dengan kelompok. Pergaulan mempunyai pengaruh yang besar dalam pembentukan kepribadian seseorang individu. Pergaulan yang ia lakukan itu akan mencerminkan kepribadiannya, baik pergaulan yang positif maupun pergaulan yang negatif. Berikut ini adalah cara menciptakan pergaulan dengan baik.


Senin, 29 April 2024

Pendidikan Karakter Siswa Dalam Bimbingan Dan Konseling

Peran Guru Bimbingan dan Konseling Dalam Pendidikan Karakter

    Peranan guru bimbingan dan konseling sebagai pelaksana utama yang mengkoordinir semua kegiatan bimbingan dan konseling disekolah untuk membantu peserta didik menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi peserta didik, agar menjadi pribadi yang mandiri, peranan guru bimbingan dan konseling sangat diperlukan sehingga kegiatan belajar dapat berlangsung baik sesuai dengan apa yang diharapkan. 
Prayitno dan Erman Amti mengemukakan bahwa bimbingan merupakan proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa. Bimbingan dan konseling adalah upaya pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang konselor kepada anak didik agar dapat memahami dirinya sehingga sanggup mengarahkan diri dan bertindak dengan baik sesuai dengan perkembangan jiwanya. Dalam hal ini  guru BK berperan penting dalam membentuk karakter disiplin dan tanggung jawab belajar pada peserta didik.

    Karakter 
    Menurut Suyanto dalam Zubaedi, karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas individu dan makhluk sosial baik dalam lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, bangsa, dan negara serta berani mempertanggung jawabkan keputusan yang ia buat.

    Disiplin
    Pengertian disiplin menurut Soedjono adalah suatu keadaan dimana individu berperilaku sesuai dengan pola-pola tertentu yang telah ditetapkan terlebih dahulu.4 Menurut Manullang, disiplin berarti sanggup melakukan apa yang sudah disetujui, baik persetujuan tertulis, lisan maupun berupa peraturan-peraturan. 

    Tanggung Jawab
    Belajar Tanggung jawab belajar merupakan suatu kewajiban yang dimiliki oleh peserta didik untuk melaksanakan tugasnya yaitu belajar yang merupakan suatu proses usaha berdasarkan praktik atau pengalaman tertentu untuk mendapatkan kecakapan atau tingkah laku yang baru dengan menerima segala konsekuensi dengan penuh kesadaran dan kesukarelaan. 


    Masalah Pemerintah Dalam Upaya Meningkatkan Kualitas Pendidikan di Indonesia

    Upaya yang dilakukan pemerintah yaitu dengan adanya perubahan kurikulum. Perubahan Kurikulum mewajibkan kita untuk mementingkan pendidikan berbasis karakter dan kompetensi yang bertujuan untuk menghasilkan karakter anak bangsa yang berakhlak baik. Berdasarkan fakta yang ada di masyarakat tentang menurunnya moral generasi muda serta peserta didik yang tidak memahami rasa tanggung jawabnya sebagai peserta didik. Misalnya, perilaku peserta didik yang banyak melakukan tindakan tidak baik seperti terlibat kasus narkoba perkelahian, bolos saat jam pelajaran, pergaulan bebas dan pesta minuman.
    Fakta yang terjadi mencerminkan bahwa kurangnya karakter yang ada dalam diri peserta didik tersebut. Pembentukan dan penanaman karakter menjadi sangat penting untuk menentukan cara seseorang bersikap. Karakter manusia yang telah melekat pada kepribadiannya akan ditunjukkan melalui perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Karakter juga mengacu pada serangkaian sikap (attitude), tingkah laku, motivasi dan keterampilan (skills).
    Perkembangan karakter seorang anak tentunya tidak lepas dari peran orang tua, karena diperlukan guna untuk memberikan pendidikan karakter yang baik, jika orang tua salah dalam mendidik anak dapat berakibat fatal dalam perkembangan anak. Peran guru di sekolah pun sangat penting dalam memberikan pendidikan karakter yang baik. Oleh karena itu, kerja sama antara orang tua dan guru sangatlah penting dalam membentuk karakter anak.
    Karakter yang berkualitas penting untuk diajarkan sejak usia dini. Sebab saat usia inilah anak dapat dengan mudah menerima berbagai informasi dengan cepat, sehingga apa yang didapat pada anak akan diterima dengan baik dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Karakter merupakan tabiat, watak, dan kebiasaan yang dimiliki oleh individu yang relative tetap. Dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat al-baqarah ayat 44 yang Artinya: Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti? Ayat ini menunjukkan bahwa Allah memerintahkan manusia untuk bertanya kepada orang yang mempunyai pengetahuan pertanyaan yang belum dijawab, akan mendorong seseorang (yang ditanya) untuk mencari tahu dan pertanyaan akan melahirkan ilmu-ilmu baru serta mendorong seseorang untuk terus belajar. Allah juga memerintahkan manusia menggunakan nalarnya dan fikirannya untuk mendapatkan kebenaran agar pikiran manusia tidak tumpul dan mudah dibodohi.

    Karakter erat kaitannya dengan kepribadian seseorang, dimana seseorang yang disebut berkarakter adalah seseorang yang bertingkah lakunya sesuai dengan kaidah moral. Hal ini yang menjadi dasar terkait dengan karakter religius dan disiplin peserta didik. Menurut Arikunto kedisplinan peserta didik dapat terlihat melalui tiga aspek diantaranya, aspek di lingkungan keluarga, aspek dilingkungan sekolah, dan aspek dilingkungan pergaulan.
   Berdasarkan aspek-aspek disiplin yang disebutkan diatas, maka dapat disimpulkan kedisiplinan peserta didik terdiri dari lima indikator diantaranya, mengerjakan tugas sekolah di rumah, mempersiapkan keperluan sekolah di rumah, sikap peserta didik di kelas, kehadiran peserta didik, melaksanakan tata tertib di sekolah. Untuk membantu orang tua dalam pembentukan karakter anak, guru bimbingan dan konseling perlu melakukan pendekatan personal, artinya guru bimbingan dan konseling harus kompeten, layak dicontoh, dan menjadi figure yang dihormati. Dasar-dasar agama pun seharusnya diterapkan dalam menolong anak didik, agar memiliki karakter yang baik di lingkungan sekitar. 
    Banyak sekali faktor yang mempengaruhi pembentukan karakter anak-anak, mulai dari anggota keluarga, media, lingkungan, dan teman- teman mereka. Jika didalam keluarga, orang tua tidak memberikan perhatian yang cukup kepada anak, maka tidak heran jika anak-anak mencarinya diluar rumah. Pembentukan karakter dilakukan secara terus menerus walaupun pelan pastinya akan diperoleh perubahan yang luar biasa walaupun pada kenyataannya tidak tahu pastinya kapan. Dalam hal ini seharusnya ditanamkan supaya tidak kecewa dengan hasil adalah ketabahan dan kesabaran. Salah satu tempat untuk menanamkan karakter pada anak adalah di sekolah. Sekolah merupakan tempat yang strategis untuk menanamkan karakter.
    Penanaman karakter di sekolah dilakukan oleh seorang guru, oleh karena itu seorang guru harus berperan baik dalam bersikap, karena peserta didik akan mencontoh apa yang dilakukan gurunya. Selain itu, peserta didik juga harus memiliki kecerdasan spriritual, kecerdasan intelektual, dan kecerdasan emosionalnya, meskipun kecerdasan itu diperlukan bagi peserta didik, tentu pendidikan karakter lebih diutamakan bagi peserta didik. Oleh karena itu, peserta didik yang memiliki kecerdasan tanpa diimbangi dengan suatu karakter tidak lah cukup dalam mencapai hasil belajar maksimal. Peran guru BK tidak hanya untuk pembentukan karakter disiplin peserta didik saja namun juga untuk menanamkan tanggung jawab belajar dalam dirinya. Tanggung jawab belajar sangat dibutuhkan dalam proses belajar. 
    Tanggung jawab belajar adalah suatu proses dimana seorang berinteraksi langsung menggunakan alat inderanya terhadap objek belajar dan lingkungan melalui pendidikan di sekolah yang menghasilkan perubahan tingkah laku menganggung segala akibat dan kegiatan belajar dengan penuh kesadaran, kerelaan, rasa memiliki, dan disiplin yang bertujuan untuk menguasai materi ilmu pengetahuan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi rendahnya tanggung jawab belajar peserta didik antara lain dapat bersumber dari guru, lingkungan tempat tinggal, sarana dan prasarana yang ada, orang tua, dan dari peserta didik itu sendiri. Tidak bertanggung jawab dalam belajar dikarenakan kurangnya dorongan, pengawasan dan motivasi dari dalam diri maupun luar diri peserta didik tersebut dan beberapa faktor seperti masalah keluarga, lingkungan, pergaulan dan teman sebaya.  
 
    Pembentukan Karakter 
    
    1. Pengertian Karakter Pengertian secara khusus, karakter adalah nilai-nilai yang khas baik, (mengerti nilai kebaikan, mau berbuat baik, nyata kehidupan baik, dan berdampak baik terhadap lingkungan) yang terdapat dalam diri dan terwujud dalam perilaku. Dalam hubunganya dengan pendidikan, pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik buruk, memelihara kebaikan, mewujudkan dan menebarkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. Sedangkan menurut psikologi, karakter adalah sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan yang mengarahkan tindakan seorang individu, karena itu jika pengetahuan mengenai karakter seorang itu dapat diketahui bagaimana individu tersebut akan bersikap untuk kondisi-kondisi tertentu. 
    Dilihat dari sudut pengertian ternyata karakter dan akhlak tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Keduanya didefinisikan sebagai suatu tindakan yang terjadi tanpa ada lagi pemikiran lagi karena sudah tertanam dalam pikiran, dan dengan kata lain, keduanya dapat disebut dengan kebiasaan. Karakter identik dengan akhlak, sehingga karakter merupakan nilainilai perilaku manusia yang universal yang meliputi seluruh aktivitas manusia, baik dalam rangka berhubungan dengan tuhannya, dengan dirinya, dengan sesama manusia, maupun dengan lingkungannya yang terwujud dalam pikiran, sikap perasaan, perkataan dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum tata karma, budaya dan adat istiadat. Dalam Hadis Nabi SAW. Yang diriwayatkan oleh iman Bukhari menjelaskan bahwa, yang artinya: “Nabi SAW bersabda: setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), kedua orang tuanyalah yang menjadikan Yahudi atau Nasrani atau Majusi, bagaimana seekor binatang melahirkan anaknya, apakah engkau melihat dia melindunginya?” Dari Dalil diatas menjelaskan bahwa karakter baik merupakan fitrah manusia yang proses pengembangannya dapat dilakukan melalui tuntutan agama dan lingkungan budaya. 

    2. Macam-macam Bentuk Karakter 
        1. Pendidikan Karakter Berbasis Islam Islam menggunakan kata akhlak (bentuk jamak dari kata khuluq) untuk menggambarkan karakter. Mengemukakan dua citra manusia, yaitu citra lahiriah manusia disebut khalaq, dan citra bantiniah disebut khuluq. Karakter atau akhlak mulia dalam perspektif islam merupakan buah yang dihasilkan dari proses penerapan (Ibadah dan Muamalah) yang dilandasi oleh fondasi aqidah yang kokoh. Ibarat bangunan, karakter merupakan kesempurnaan dari bangunan, tersebut setelah fondasi dan bangunannya kuat. Oleh sebab itu tidak mungkin karakter mulia akan terwujud pada diri seseorang jika tidak memiliki aqidah dan syariah yang benar.
        2. Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Pendidikan karakter berbasis budaya menegaskan bahwa kebudayaan dimaknai sebagai sesuatu yang diwariskan atau dipelajari, kemudian meneruskan apa yang dipelajari serta mengubahnya menjadi sesuatu yang baru, itulah proses dari pendidikan. Apabila demikian adanya, maka tugas pendidikan sebagai misi kebudayaan harus mampu melakukan proses; pertama pewaris kebudayaan, kedua membantu individu memilih peran sosial dan mengajari untuk melakukan peran tersebut, ketiga memadukan beragam identitas individu kedalam lingkup individu yang lebih luas, keempat harus menjadi sumber inovasi sosial. Tahapan tersebut diatas, mencerminkan jalinan hubungan fungsional antara pendidikan dan kebudayaan yang mengandung dua hal utama, yaitu: pertama, bersifat reflektif, pendidikan merupakan gambaran kebudayaan yang sedang berlangsung. Kedua, bersifat progresif, pendidikan berusaha melakukan pembaharuan, inovasi agar kebudayaan yang ada dapat mencapai kemajuan. Kedua hal di atas, sejalan dengan tugas dan fungsi pendidikan adalah meneruskan atau mewariskan kebudayaan serta mengubah dan mengembangkan kebudayaan tersebut untuk mencapai kemajuan kehidupan manusia.
        3. Pendidikan Karakter Dalam Keluarga Aspek penting dalam pembentukan karakter anak dalam keluarga adalah terpenuhinya tiga kebutuhan dasar anak yaitu: rasa aman, stimulasi fisik dan mental merupakan dasar penting dalam pembentukan karakter anak karena aspek ini berperan dalam pembentukan dasar kepercayaan kepada orang lain oleh anak. Kedekatan ini membuat anak merasa diperhatikan dan menumbuhkan rasa aman sehingga menumbuhkan rasa percaya. Kebutuhan akan rasa aman yaitu kebutuhan anak akan lingkungan yang stabil dan aman. Kebutuhan ini penting bagi pembentukan karakter anak karena lingkungan yang bisa berubah-ubah akan membahayakan perkembangan emosi bayi, pengasuh yang bertukar-tukar juga akan berpengaruh negatif pada perkembangan emosi anak. Kebutuhan akan stimulasi fisik dan mental juga merupakan aspek penting dalam pembentukan karakter anak. Tentu saja hal ini membutuhkan perhatian yang besar dari orang tua dan reaksi timbal balik antara ibu dan anak. Pola asuh juga meliputi pola interaksi orang tua dengan anak dalam rangka pendidikan anak melalui pola asuh yang dilakukan oleh orang tua, anak belajar tentang banyak hal termasuk karakter. Tentu saja pola asuh otoriter (yang cenderung menuntut anak untuk patuh terhadap segala keputusan orang tua) dan pola asuh permisif (yang cenderung memberikan kebebasan penuh kepada anak untuk berbuat) sangat berbeda dampaknya dengan pola asuh demokrasi (yang cenderung mendorong anak untuk terbuka, namun bertanggung jawab dan mandiri) terhadap hasil pendidikan karakter anak. Artinya jenis pola asuh yang diterapkan oleh orang tua terhadapnya menentukan keberhasilan pendidikan karakter anak oleh keluarga.
        4. Pendidikan Karakter Di Sekolah Proses pendidikan karakter di sekolah dilakukan secara terpadu. Proses tersebut didasarkan bahwa sejauh ini muncul keyakinan bahwa anak tumbuh dengan baik jika dilibatkan secara alamiah dalam proses belajar. Dalam pendidikan karakter, pemodelan atau pemberian teladan merupakan strategi yang biasa digunakan untuk menggunakan strategi ini ada dua syarat yang harus dipenuhi, pertama, guru harus berperan sebagai model yang baik bagi peserta didik. Kedua, peserta didik harus meneladani orang yang terkenal berakhlak mulia, misalnya Nabi Muhammad SAW. cara guru menyelesaikan masalah dengan adil, menghargai pendapat peserta didik dan mengkritik orang lain dengan santun, merupakan perilaku yang secara alami dijadikan model bagi peserta didik.
        5. Pendidikan Karakter Dalam Masyarakat Seperti telah dikemukakan sebelumnya bahwa keteladanan sangat penting dalam implementasi pendidikan berbasis karakter. Oleh karena itu, sangat tepat jika pendidikan tersebut tidak hanya mencangkup peserta didik dan guru, melainkan juga kemasyarakat luas di luar lingkungan sekolah. Jika demikian peserta didik akan mudah menemukan contoh perilaku baik di masyarakat. Dari pembahasan pendidikan karakter diatas dapat peneliti ketahui bahwa pelaksanaan pendidikan karakter di masyarakat menggariskan pentingnya unsur keteladanan. Selain dari itu, perlu disertai pula dengan upaya-upaya untuk mewujudkan lingkungan sosial yang kondusif (mendukung) bagi anak, baik dalam keluarga, disekolah dan dalam masyarakat. Jika demikian, pelaksanaan pendidikan karakter akan lebih berkesan dalam rangka membentuk kepribadian anak.


Jumat, 12 April 2024

PERAN GURU BK TERHADAP MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

 

Belajar adalah usaha yang dilakukan secara sadar untuk merubah sikap dan tingkah laku individu. Dalam upaya mencapai perubahan tingkah laku dibutuhkan motivasi. Dalam kegiatan belajar, motivasi merupakan keseluruhan daya penggerak di dalam diri yang menimbulkan kegiatan belajar yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar. Motivasi merupakan salah satu faktor yang mendorong siswa untuk mau belajar. Motivasi belajar dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu motivasi instrinsik (keadaan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar) dan motivasi ekstrinsik (keadaan yang datang dari luar individu siswa yang mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar). Motivasi belajar adalah merupakan faktor psikis yang bersifat non intelektual. Seseorang yang mempunyai intelegensi yang cukup tinggi, bisa gagal karena kurang adanya motivasi dalam belajarnya.Ada tidaknya motivasi belajar sangat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa. Keberhasilan belajar akan tercapai apabila pada diri adanya kemauan dan dorongan untuk belajar.

Proses belajar mengajar adalah interaksi positif antara guru dan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Keberhasilan belajar mengajar sangat ditentukan oleh pencapaian tujuan pembelajaran. Pembelajaran merupakan kegiatan utama dalam proses pendidikan di sekolah dan keberhasilan pendidikan tergantung pada efektivitas pembelajaran. Pembelajaran dapat diartikan sebagai perubahan perilaku yang disebabkan oleh pengalaman dan melibatkan keterampilan kognitif dan sikap dalam mencapai tujuan pendidikan. Pembelajaran efektif terjadi ketika interaksi antara guru dan siswa aktif dan tujuan yang diharapkan tercapai dalam waktu yang telah ditentukan.

Berkaitan dengan mencapai sasaran pembelajaran dan pendidikan, meningkatkan motivasi belajar siswa merupakan tugas penting bagi semua guru, termasuk guru bimbingan dan konseling. Pembelajaran akan berjalan efektif ketika siswa memiliki motivasi untuk belajar. Guru harus berusaha sebaik mungkin agar siswa termotivasi untuk belajar. Maka dari itu, motivasi belajar menjadi kunci penting dalam mencapai sasaran pembelajaran. Motivasi belajar harus muncul dalam diri siswa sehingga mereka termotivasi untuk belajar.

 

PENDIDIKAN BERKARAKTER GURU BK

Guru BK dapat menghabiskan waktu dengan siswa baik secara pribadi maupun dalam kelompok, serta mendengarkan kecemasan dan kekhawatiran mereka dalam hal akademis terutama. Sebagai mediator yang terlatih, guru BK mendukung siswa saat mereka belajar mengekspresikan diri secara efektif kepada orang tua, guru maupun teman. Guru BK terkadang mewakili siswa dalam pertemuan dengan staf dan orang tua lain, seperti pertemuan pendidikan khusus atau dengar pendapat. Mereka juga dapat berfungsi sebagai sumber penting bagi siswa di saat krisis atau konflik, memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengungkapkan keprihatinan mereka dan merasa didengarkan.

Guru BK biasanya berfungsi sebagai titik kontak penting di sekolah/Madrasah untuk orang tua sebagai sumber dari banyak pertanyaan yang berasal dari anak-anak mereka. Orang tua dapat menghubungi guru BK untuk membahas kemajuan akademis, masalah sosial, atau hambatan yang bersifat emosional anak mereka. Guru BK juga dapat membantu orang tua terhubung dengan staf sekolah yang sesuai atau mengakses sumber daya yang dibutuhkan dan dapat membantu menengahi perselisihan antara keluarga, guru, atau staf sekolah/madrasah lainnya. Mereka juga dapat memberikan dukungan dan informasi kepada orang tua yang mengadvokasi kebutuhan akademis atau pribadi anak mereka.

Bimbingan dan konseling bisa sangat bermanfaat karena berbagai alasan. Pertama, seperti segala bentuk konseling, ini dapat membantu orang merasa didengarkan, dalam ruang aman tanpa penilaian.

Konselor Bimbingan memiliki keterampilan profesional dan alat intervensionis yang memungkinkan mereka membangun gambaran menyeluruh tentang klien dan kebutuhan mereka. Melalui proses berbicara, konselor bimbingan awalnya bertujuan untuk memahami dan mendengarkan kebutuhan klien (siswa) dengan memanfaatkan keterampilan konseling profesional. Manfaat terbesar dari konselor sekolah adalah mereka mempersiapkan siswa untuk tantangan akademis, karir dan sosial dengan menghubungkan agenda pendidikan dengan kesuksesan mereka di masa depan. Mereka membuat siswa menjadi pelajar termotivasi dan memfasilitasi eksplorasi karir mereka. Konselor juga mendorong siswa untuk berbicara dengan orang tua atau wali mereka tentang hal-hal yang mereka khawatirkan. Ketika siswa merasa tidak nyaman membicarakan masalah emosional atau sosial di rumah, konselor sekolah mungkin mengadakan sesi konseling individu dengan mereka. Jika ada masalah yang terjadi dengan sekelompok siswa, sesi konseling kelompok mungkin diperlukan. Kadang-kadang konselor menyertakan orang tua dalam sesi ini untuk masalah yang lebih besar guna menentukan apakah konseling atau dukungan dari luar diperlukan.

Ada sejumlah alasan berbeda mengapa orang mengikuti sesi bimbingan konseling. Mereka dapat dihadapkan pada pemutusan hubungan kerja, pengangguran, pilihan perguruan tinggi, pilihan karir, dan mungkin membutuhkan dukungan saat mereka menavigasi jalan mereka melalui salah satu bidang yang disebutkan. Faktanya salah satu tujuan utama dari seorang konselor bimbingan adalah untuk membantu klien memahami diri mereka sendiri sehingga mereka dapat membantu mereka menemukan kehidupan yang memuaskan dalam hubungannya dengan pendidikan dan karir masa depan mereka. Ada lebih banyak opsi tetapi ada juga masalah yang lebih terkait. Masyarakat dan strukturnya terus berubah dengan cepat dan jumlah informasi baru yang diharapkan dapat diuraikan dan diserap oleh orang-orang tampaknya tumbuh dengan cepat.

Senin, 25 Maret 2024

Membina Persahabatan Sejati

Apakah Persahabatan Itu ?

Persahabatan adalah hubungan timbal balik antara 2 orang atau lebih yang di dasari atas asas sukarela untuk berbagai kepentingan tertentu dengan intensitas hubungan yang sangat erat.

A. Bagaimana sebuah hubungan di katakan sebagai “Persahabatan” ? Sebuah hubungan                      dikatakan  persahabatan jika memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Saling menyayangi dan berbagi dalam banyak hal
  2. Saling setia, jujur dan kerjasama yang baik
  3. Saling berkomunikasi secara intensif
  4. Saling menjaga rahasia saling percaya dan mengedepankan kejujuran
  5. Saling membantu terutama saat salah satu mendapatkan kesulitan
  6. Saling menjaga persamaan hak dan kewajiban
  7. Saling menghargai adanya perbedaan, baik perbedaan hobi, visi dan status sosial

B. Membina persahabatan agar awet dan lebih bermanfaat.

Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membina persahabatan agar awet dan lebih bermanfaat, diantaranya :

  1. Menghormati dan Menghargai, Kalau kita ingin bersahabat dengan seseorang, jangan pernah kita melihat latar belakang orang tersebut. Jangan pernah kita melihat dia dari golongan mana, suku mana, agama apa, dll. Jadi siapapun dia dan apapun latar belakangnya kita harus menghormati dan menghargainya

2. Saling Menjaga Rahasia, Sahabat adalah merupakan tempat kita berbagi dan berkeluh kesah. Tak jarang rahasia pribadi mereka, mereka mau menceritakan sama kita. Untuk itu supaya persahabatan tetap terjaga, kita harus menjaga rahasia itu dan jangan kita sia-siakan kepercayaan sahabat itu yang sudah di berikan kepada kita.

3. Jangan Bermuka Dua, Manusia di dunia ini tak ada seorangpun yang sempurna. Begitu juga dengan sahabat, tak pernah lepas dari yang namanya kesalahan, lupa dan khilaf. Jadi kalau suatu saat nanti sahabat kita melakukan kesalahan baik yang di sengaja maupun tidak, jangan pernah kita membicarakan dia di belakangnya. Apapun dia masalah itu harus di selesaikan dengan baik-baik.

4. Jadilah pendengar yang baik buat teman-temanmu, Jangan pernah sekalipun Anda bersikap menggurui. Memberi nasihat boleh-boleh aja, tapi jangan melakukannya dengan cepat. Pelahan-lahan namun pastikan temanmu itu mendengarkannya.

5. Setiap orang memiliki pribadi yang unik dan khas, Cobalah mengerti bagaimana karakter temanmu. Hormatilah pendapatnya. Walau kadang kalian bisa saling berbeda pendapat dan keyakinan, namun pasti ada jalan tengah yang bisa ditempuh asal jangan tergesa-gesa memutuskannya.

6. Peliharalah kepercayaan yang telah diberikan oleh teman dekat Anda itu., Kalau yang ini nyambung tuh sama yang sebelumnya, yaitu Saling Menjaga rahasia. Jangan pernah sekali-kali Anda mengobral rahasia teman Anda pada orang lain. Saling jaga rahasia, anggap saja antara kalian ada sebuah permainan yang hanya bisa dimainkan oleh Anda dan teman Anda.

7. Berilah dukungan dan pujilah teman Anda, kesampingkan kesalahannya dan kelemahannya. Memberi dukungan kepada sahabat dalam keadaan apapun itulah yang terbaik. Apalagi saat teman/sahabat kita mengalami suatu masalah yang membuat ia terpuruk, maka kta sebagai sahabatnya harus bisa menghiburnya dan membuat ia ceria kembali. Dukungan dari orang-orang yang berarti bisa menjadi sebuah kekuatan untuknya.

8. Jangan pernah merasa iri kepada temanmu. Kebahagiaannya adalah bahagia milik Anda juga. Ikut berbahagiaan atas keberhasilan teman Anda. Iri itu hanya membawa Anda pada keburukan. Buang jauh-jauh perasaan iri. Kita patut ikut Berbahagia apabila teman/sahabat kita mendapatkan suatu kebahagiaan atau keberhasilan.

9. Dekat bukan berarti harus tergantung satu sama lain. Berikan pertolongan secukupnya. Jagalah ‘jarak’ yang wajar. Mundurlah sedikit bila kita merasa pertemanan sudah terlampau dekat. Sebaliknya, mendekatlah kala kita merasa pertemanan sudah semakin renggang.

10. Sisihkan waktu untuk melakukan kegiatan refresing bersama. Kembangkan sikap toleransi, fleksibelitas, asertive, empati dan belajar saling memahami. Kegitan keluar/liburan dan hang out bareng bisa mendekatkan satu sama lain. Sering-seringlah jalan bareng teman.

11. Jangan pernah ragu untuk minta maaf pada temanmu saat Anda melakukan sebuah kesalahan   padanya. Setelah itu berusahalah perbaiki kesalahan Anda. Begitu pula sebaliknya, berikan maaf   dan lupakan kesalahannya jika ia bersalah.

12. Harus Peduli. Sebagai yang sahabat yang baik, kita harus peduli kepada sahabat kita. Jadi jangan  sewaktu kita membutuhkan pertolongan dia ada untuk kita, sementara disaat dia butuh  pertolongan kita justru tak mau peduli dan tak mau tau.


C. Sikap Terbaik dalam Membangun Tali Persahabatan

Ada delapan sikap terbaik dalam membangun tali persahabatan : 

1.        Jadilah diri yang rendah hati. Seorang yang memiliki sikap rendah hati akan lebih mampu dalam membangun tali persahabatan. Lawan utama dari sikap ini adalah kesombongan. Manakala kita lebih banyak sombongnya daripada rendah hatinya maka akan makin sedikit orang yang tetap mau berteman dengan kita. 

    Sikap rendah hati tidak muncul tiba tiba, ada banyak faktor yang menjadi latar belakang mengapa orang yang sombong tiba tiba bisa berubah menjadi rendah hati.Salah satu faktor yang memberi pengaruh besar itu berasal dari dalam sendiri, yaitu keinginan untuk menjadi manusia yang lebih baik dan lebih berguna dar sebelumnya.

2.       Jadilah pendengar yang baik. Tampaknya begitu mudah ketika kita diminta untuk menjadi pendengar, namun hanya ada sedikit orang yang mampu menjalankan hal ini. Seorang yang biasa dan telah terlatih untuk mendengarkan orang lain maka ia akan lebih mudah diterima orang lain dimanapun berada. Dengarkan baik baik ketika sahabat kita sedang bercerita, fokuskan perhatian terhadap apa yang sedang diceritakan, jangan sampai sahabat kita merasa dibiarkan karena kita asyik main game atau begitu asyik menonton televisi. 

3.         Berikan pujian yang tulus kepada sahabat. Mungkin ada sebagian pembaca yang belum pernah memberikan pujian kepada temannya sendiri meski jalinan persahabatan yang ada telah terjalin selama puluhan tahun ? Kita tak boleh terlambat untuk memberikan pujian, kita hendaknya percaya bahwa pujian akan memberi semangat dan energi baru untuk sahabat sahabat yang ada dalam hidup ini.Kita mesti yakin bahwa seburuk apapun ke lakuan dari sahabat kita maka mereka pasti punya sisi keunggulan yang pantas diganjar dengan pujian. Sanjuangan yang bernilai positif itu ibarat angin dalam roda mobil, atau udara yang membuat balon terbang ke tempat yang lebih tinggi. Asal pujiannya tak terlalu sering dan tidak over maka jalinan persahabatan akan makin langgeng dimasa masa berikutnya. 

4.           Mengalah demi kebaikan sahabat. Sungguh teramat beruntung ketika kita memiliki sahabat sahabat yang lebih banyak mengalah dan lebih mengutamakan kepentingan kita. Mereka inilah yang jiwanya bersih, hatinya tulus dan mampu menghargai arti persahabatan lebih tinggi dari umumnya orang. Mereka menjadikan kita sahabat bukan karena harta atau apa, namun mereka membangun persahabatan dengan tujuan untuk memberi kebaikan kepada sesama.  Dari sekian banyak jumlah teman yang kita miliki maka hanya ada sedikit sahabat yang mempunyai sikap lebih banyak mengalah.Tentunya kita bisa belajar lebih banyak dan meneladani sikap yang begitu mulia ini, karena sikap mengalah pada jangka panjangnya akan membuat kita makin kuat. 

5.          Berani menegur kita dengan sikap yang tegas tetapi santun. Sahabat yang baik bukanlah orang yang selalu setuju dengan semua tindakan yang kita ambil. Menegur sahabat tak selamanya mudah, perlu cara dan waktu yang tepat pula.  Kita mungkin pernah mengalami hal yang tak enak saat menegur sahabat yang melakukan kesalahan, karena mereka malah jadi membenci dan menjauh dari kita. Kita dianggap telah mencampuri urusannya dan sok peduli dengan masalahnya. Selama niat kita tulus dan kita yakin bahwa teguran itu demi kebaikan sahabat kita maka jangan pernah ragu untuk mengingatkan sahabat yang kita cintai. 

6.           Setia dan tanggung jawab. Inilah sikap yang sangat dibutuhkan sahabat sahabat kita, mereka sangat membenci yang namanya pengkhianatan baik itu dilakukan secara terang terangan ataupun melalui cara cara keji yang tak mereka ketahui sepanjang hidupnya. Jangan pernah mengorbankan sahabat sendiri hanya karena kita ingin kepentingan pribadi segera terwujud. Sahabat yang telah bertahun tahun dengan kita dan telah bersama dalam kita dalam suka atau duka itu jauh lebih penting dari segalanya. Kebeningan dan kesetiaan yang telah sahabat berikan kepada kita tak akan pernah bisa dibeli, tak ada orang yang sanggup membeli kedamaian pikiran saat kita bersahabat dengan orang lain.  Sebagian dari kita ada yang mengorbankan sahabat hanya demi tujuan uang dan kekayaan, padahal para ahli telah menemukan satu bukti andai seluruh harta dan uang di dunia ini diubah menjadi emas maka hanya akan menjadi beberapa kubik saja, namun seluruh emas yang telah disatukan ini tak akan mampu menggantikan kelembutan dan kesetiaan para sahabat kita yang mengagumkan. 

7.         Rutinkan untuk mendoakan sahabat kita. Apapun agama yang kita anut maka jangan pernah lupa untuk mendoakan mereka, kebiasaan ini akan membuat kita makin dekat dengan Tuhan dan kita akan memahami bahwa mereka ada dalam hidup kita tentu bukan tanpa sebab. Harus kita akui bahwa kita berhutang besar atas kebaikan para sahabat, kita tak mungkin melupakan mereka, sejelek apapun perilaku sahabat maka jangan pernah bosan untuk memberi harapan lewat doa doa suci saat kita menyatukan hati kepada Tuhan. Doa kebaikan akan kembali kepada diri kita dan mendoakan kejahatan atau kecelakaan untuk sahabat maka itu pun akan kembali pada diri kita. Wahai sahabat...boleh saja kau melupakanku, tetapi jangan pernah bosan untuk mengingatku dalam tiap sembah sujudmu. Karena itulah yang aku inginkan, aku ingin kelak engkau tahu bahwa tali persahabatan diantara kita bukan karena apa, tetapi karena kita ingin mendapat kebaikan dalam hidup baik kini, esok ataupun selamanya. 

D. Hal-hal yang merusak Persahabatan

  1. Sudah tidak ada kejujuran, rasa saling percaya dan rasa saling menjaga rahasia
  2. Adanya persaingan yang tidak sehat dan kecemburuan
  3. Mulai mementingkan kepentingan dan keuntungan pribadi
  4. Tidak adanya keadilan, keseimbangan , kebersamaan dan rasa saling memiliki lagi.

 

Selasa, 13 Februari 2024

Menyontek Penyebab dan solusinya


a.  Pengertian Menyontek

    Pengertian menyontek atau menjiplak atau ngepek menurut Purwadarminta sebagai suatu kegiatan mencontoh / meniru / mengutip tulisan, pekerjaan orang lain sebagaimana aslinya. Cheating (menyontek) menurut Wikipedia Encyclopedia sebagai suatu tindakan tidak jujur yang dilakukan secara sadar untuk menciptakan keuntungan yang mengabaikan prinsip keadilan. Ini mengindikasikan bahwa telah terjadi pelanggaran aturan main yang ada.

Abdullah Alhadza dalam Admin (2004) mengutip pendapat dari Bower (1964) yang mendefinisikan “cheating is manifestation of using illigitimate means to achieve a legitimate end (achieve academic success or avoid academic failure),” maksudnya “menyontek” adalah perbuatan yang menggunakan cara-cara yang tidak sah untuk tujuan yang sah/terhormat yaitu mendapatkan keberhasilan akademis atau menghindari kegagalan akademis.

Nyontek sering kali dipahami dan merupakan sikap pecundang yang menginginkan hasil paling bagus tanpa harus bersusah payah. Biasanya, nyontek dilakukan oleh para siswa yang sedang mengerjakan soal ulangan atau ujian, dan yang bersangkutan tidak mempersiapkan penguasaan bahan/materi pelajaran yang memadai dengan berbagai alasan. Mereka menyontek pekerjaan temannya yang dianggap lebih pintar atau mengerjakan soal dengan jawaban yang dilihatnya dari catatan yang sudah dipersiapakan. Catatan ini bisa berupa apa saja, buku-buku, atau catatan kecil lainnya.

 

b.  Faktor Penyebab dan Akibat Menyontek

Menurut Nugroho (2008), yang menjadi penyebab munculnya tindakan ”menyontek” bisa dipengaruhi beberapa hal. Baik yang sifatnya berasal dari dalam (internal) yakni diri sendiri maupun dari luar (eksternal) misalnya dari guru, orang tua maupun sistem pendidikan itu sendiri.

1. Faktor dari dalam diri sendiri

•  Kurangnya rasa percaya diri pelajar dalam mengerjakan soal. Biasanya disebabkan ketidaksiapan belajar baik persoalan malas dan kurangnya waktu belajar.

 Orientasi pelajar pada nilai bukan pada ilmu.

 Sudah menjadi kebiasaan dan merupakan bagian dari insting untuk bertahan.

 Merupakan bentuk pelarian/protes untuk mendapatkan keadilan. Hal ini disebabkan  pelajaran yang disampaikan kurang dipahami atau tidak mengerti dan sehingga merasa tidak puas oleh penjelasan dari guru/dosen.

 Melihat beberapa mata pelajaran dengan kacamata yang kurang tepat, yakni merasa ada pelajaran yang penting dan tidak penting sehingga mempengaruhi keseriusan belajar.

•  Terpengaruh oleh budaya instan yang mempengaruhi sehingga pelajar selalu mencari jalan keluar yang mudah dan cepat ketika menghadapi suatu persoalan termasuk test/ujian.

  Tidak ingin dianggap sok suci dan lemahnya tingkat keimanan.

2. Faktor dari Guru

 Guru tidak mempersiapkan proses belajar mengajar dengan baik sehingga yang terjadi tidak ada variasi dalam mengajar dan pada akhirnya murid menjadi malas belajar.

 Guru terlalu banyak melakukan kerja sampingan sehingga tidak ada kesempatan untuk membuat soal-soal yang variatif. Akibatnya soal yang diberikan antara satu kelas dengan kelas yang lain sama atau bahkan dari tahun ke tahun tidak mengalami variasi soal.

  Soal yang diberikan selalu berorientasi pada hafal mati dari text book.

 Tidak ada integritas dan keteladan dalam diri guru berkenaan dengan mudahnya soal diberikan kepada pelajar dengan imbalan sejumlah uang.

3. Faktor dari Orang Tua

  Adanya hukuman yang berat jikalau anaknya tidak berprestasi.

 Ketidaktahuan orang tua dalam mengerti pribadi dan keunikan masing-masing dari anaknya, sehingga yang terjadi pemaksaan kehendak

4. Faktor dari Sistem Pendidikan

•   Meskipun pemerintah terus memperbaharui sistem kurikulum yang ada, akan tetapi sistem pengajarannya tetap tidak berubah, misalnya tetap terjadi one way yakni dari guru untuk siswa.

  Muatan materi kurikulum yang ada seringkali masih tumpang tindih dari satu jenjang ke jenjang lainnya yang akhirnya menyebabkan pelajar/siswa menganggap rendah dan mudah setiap materi. Sehingga yang terjadi bukan semakin bisa melainkan pembodohan karena kebosanan.

        Akibat Menyontek

Bagi yang menyontek ketahuan oleh pengawas dapat dipastikan bagaimana kisah selanjutnya. Bisa dikeluarkan dari ruang ujian dan menanggung malu, dan bahkan lebih fatal lagi adalah adalah didiskualifikasi dan dinyatakan tidak lulus ulangan. Ilmu yang didapatkan dengan tidak jujur, biasanya tidak membawa barokah. Jangan-jangan mereka yang menganggur setelah lulus karena ilmu yang diperolehnya selama sekolah didapatkannya dengan cara yang tidak jujur pula. Hannya Tuhan yang tahu.

c.  Cara Penanggulangan Menyontek

Dari uraian di atas dapat diidentifikasi bahwa ada empat faktor yang menjadi penyebab menyontek yaitu:

(1) Faktor individual atau pribadi dari penyontek,

(2) Faktor lingkungan atau pengaruh kelompok

(3) Faktor sistem evaluasi dan

(4) Faktor guru/dosen atau penilai.

Berkenaan dengan asas moral di atas, dapat ditegaskan bahwa yang terpenting dalam pendidikan moral adalah bagaimana menciptakan faktor kondisional yang dapat mengundang dan memfasilitasi seseorang untuk selalu berbuat secara moral dalam ujian (tidak “menyontek”) maka caranya adalah mengkondisikan keempat faktor di atas ke arah yang mendukung, yaitu sebagai berikut:

1) Faktor pribadi dari penyontek

(a)  Bangkitkan rasa percaya diri

(b)  Arahkan self consept mereka ke arah yang lebih proporsional

(c)  Biasakan mereka berpikir lebih realistis dan tidak ambisius

2) Faktor Lingkungan dan Kelompok

Ciptakan kesadaran disiplin dan kode etik kelompok yang sarat dengan pertimbangan moral.

3) Faktor Sistem Evaluasi

(a)  Buat instrumen evaluasi yang valid dan reliable (yang tepat dan tetap)

(b)  Terapkan cara pemberian skor yang benar-benar objektif

(c)  Lakukan pengawasan yang ketat

(d) Bentuk soal disesuaikan dengan perkembangan kematangan peserta didik dan dengan mempertimbangkan prinsip paedagogy serta prinsip andragogy.

4) Faktor Guru/ Dosen

(a)  Berlaku objektif dan terbuka dalam pemberian nilai.

(b)  Bersikap rasional dan tidak ”menyontek” dalam memberikan tugas ujian/tes.

(c)  Tunjukkan keteladanan dalam perilaku moral.

(d)  Berikan umpan balik atas setiap penugasan.

 

 

Bangga dengan hasil karya sendiri itu utama,

bangga karena meniru itu semu!