Senin, 29 Januari 2024

KERJASAMA ANTAR UMAT BERAGAMA

Gambar : https://www.nu.or.id/opini/urgensi-teologi-toleransi-untuk-kerukunan-umat-beragama-nVbjY

a.     Pengertian

Kerjasama umat bragama yaitu hubungan sesama umat beragama yang dilandasi dengan toleransi, saling pengertian, saling menghormati, saling menghargai dalam kesetaraan pengamalan ajaran agamanya dan kerja sama dalam kehidupan masyarakat dan bernegara. Umat beragama dan pemerintah harus melakukan upaya bersama dalam memelihara kerukunan umat beragama, di bidang pelayanan, pengaturan dan pemberdayaan. Sebagai contoh yaitu dalam mendirikan rumah ibadah harus memperhatikan pertimbangan Ormas keagamaan yang berbadan hokum dan telah terdaftar di pemerintah daerah. Pemeliharaan kerukunan umat beragama baik di tingkat Daerah, Provinsi, maupun Negara pusat merupakan kewajiban seluruh warga Negara beserta instansi pemerinth lainnya. Lingkup ketentraman dan ketertiban termasuk memfalisitasi terwujudnya kerukunan umat beragama, mengkoordinasi kegiatan instnsi vertical, menumbuh kembangkan keharmonisan saling pengertian, saling menghormati, saling percaya diantara umat beragama, bahkan menerbitkan rumah ibadah.

Kerja sama merupakan hubungan yang dinilai paling berhasil dalam suatu kemajemukan. Oleh karenanya hal ini menjadi mutlak dilakukan di negara kita yang majemuk. Kerja sama harus dilakukan untuk menghasilkan pembaruan yang diinginkan. Selain itu, kerja sama juga dapat memperkuat atau memberdayakan orang atau kelompok lain yang belum terlibat. Dengan kerja sama, masalah-masalah akibat perbedaan etnis, agama, dan budaya dapat diatasi. Contoh, kerja sama dalam pembangunan jembatan yang rusak dapat menyatukan warga di wilayah yang berbeda.Kerja sama dapat pula dilakukan antarumat beragama. Kerja sama antarumat beragama meliputi berbagai bidang. Beberapa bidang kerja sama antarumat beragama antara lain sebagai berikut :

1.     Penegakan Keadilan

Kerjasama antarumat beragama dapat menghasilkan langkah-langkah strategis untuk mengurangi atau memberantas praktik ketidakadilan yang sudah menyengsarakan rakyat dan umat dalam waktu yang cukup lama. Misalnya, dengan melaporkan pihak yang melakukan korupsi kepada penegak hukum.

2.     Perbaikan taraf hidup  (ekonomi)

Kerja sama antarumat beragama memungkinkan adanya perbaikan taraf hidup bagi pemeluknya. Salah satu contoh kerja sama dalam bidang ini adalah penggalangan dana untuk membantu korban bencana dan membuka lapangan kerja untuk warga yang belum bekerja.

3.     Perbaikan Akhlak

Para pemimpin dan tokoh-tokoh agama dituntut untuk bisa bekerja sama dalam menyuarakan kehendak agama demi kebaikan, perdamaian, kebahagian, dan keselamatan umat manusia. Misalnya dengan mendukung diberantasnya perilaku seks bebas yang dapat merusak mental dan perilaku remaja.

Sesuai dengan tingkatannya Forum Krukunan Umat Beragama dibentuk di Provinsi dan Kabupaten. Dengan hubungan yang bersifat konsultatif gengan tugas melakukan dialog dengan pemuka agama dan tokoh-tokoh masyarakat, menampung aspirasi Ormas keagamaan dan aspirasi masyarakat, menyalurkan aspirasi dalam bentuk rekomendasi sebagai bahan kebijakan. Kerukunan antar umat beragama dapat diwujdkan dengan :

1.     Saling tenggang rasa, saling menghargai, toleransi antar umat beragama

2.     Tidak memaksakan seseorang untuk memeluk agama tertentu

3.     Melaksanakan ibadah sesuai agamanya, dan

4.     Mematuhi peraturan keagamaan baik dalam Agamanya maupun peraturan Negara atau Pemerintah.

Dengan demikian akan dapat tercipta keamanan dan ketertiban antar umat beragama, ketentraman dan kenyamanan di lingkungan masyarakat berbangsa dan bernegara.

b.     Manfaat Kerjasama Antar Umat Beragama

Umat Beragama Diharapkan Perkuat Kerukunan Jika agama dapat dikembangkan sebagai faktor pemersatu maka ia akan memberikan stabilitas dan kemajuan negara. Dialog antar umat beragama dapat memperkuat kerukunan beragama dan menjadikan agama sebagai faktor pemersatu dalam kehidupan berbangsa. "Sebab jika agama dapat dikembangkan sebagai faktor pemersatu maka ia akan memberikan sumbangan bagi stabilitas dan kemajuan suatu negara," Tokoh dan umat beragama dapat memberikan kontribusi dengan berdialog secara jujur, berkolaborasi dan bersinergi untuk menggalang kekuatan bersama guna mengatasi berbagai masalah sosial termasuk kemiskinan dan kebodohan. Pemikiran Pendeta Viktor Tanja yang menyatakan bahwa misi agama atau dakwah yang kini harus digalakkan adalah misi dengan tujuan meningkatkan sumber daya insani bangsa, baik secara ilmu maupun karakter. "Hal itu kemudian perlu dijadikan sebagai titik temu agenda bersama lintas agama.

Kerjasama di antara umat beragama merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dengan kerjasama yang erat di antara mereka, kehidupan dalam masyarakat akan menjadi aman, tenteram, tertib, dan damai. Bentuk kerjasama antar umat beragama di antaranya sebagai berikut:

1.     Adanya dialog antar pemimpin agama.

2.     Adanya kesepakatan di antara pemimpin agama untuk membina agamanya masing-masing.

3.     Saling memberikan bantuan bila terkena musibah bencana alam.

c.      Kendala-Kendala dalam Kerukunan Antar Umat Beragama

1.     Rendahnya Sikap Toleransi

Menurut Dr. Ali Masrur, M.Ag, salah satu masalah dalam komunikasi antar agama sekarang ini, khususnya di Indonesia, adalah munculnya sikap toleransi malas-malasan (lazy tolerance) sebagaimana diungkapkan P. Knitter. Sikap ini muncul sebagai akibat dari pola perjumpaan tak langsung (indirect encounter) antar agama, khususnya menyangkut persoalan teologi yang sensitif. Sehingga kalangan umat beragama merasa enggan mendiskusikan masalah-masalah keimanan. Tentu saja, dialog yang lebih mendalam tidak terjadi, karena baik pihak yang berbeda keyakinan/agama sama-sama menjaga jarak satu sama lain. Masing-masing agama mengakui kebenaran agama lain, tetapi kemudian membiarkan satu sama lain bertindak dengan cara yang memuaskan masing-masing pihak. Yang terjadi hanyalah perjumpaan tak langsung, bukan perjumpaan sesungguhnya. Sehingga dapat menimbulkan sikap kecurigaan diantara beberapa pihak yang berbeda agama, maka akan timbullah yang dinamakan konflik.

2.     Kepentingan Politik

Faktor Politik, Faktor ini terkadang menjadi faktor penting sebagai kendala dalam mncapai tujuan sebuah kerukunan anta umat beragama khususnya di Indonesia, jika bukan yang paling penting di antara faktor-faktor lainnya. Bisa saja sebuah kerukunan antar agama telah dibangun dengan bersusah payah selama bertahun-tahun atau mungkin berpuluh-puluh tahun, dan dengan demikian kita pun hampir memetik buahnya. Namun tiba-tiba saja muncul kekacauan politik yang ikut memengaruhi hubungan antaragama dan bahkan memorak-porandakannya seolah petir menyambar yang dengan mudahnya merontokkan “bangunan dialog” yang sedang kita selesaikan. Seperti yang sedang terjadi di negeri kita saat ini, kita tidak hanya menangis melihat political upheavels di negeri ini, tetapi lebih dari itu yang mengalir bukan lagi air mata, tetapi darah; darah saudara-saudara kita, yang mudah-mudahan diterima di sisi-Nya. Tanpa politik kita tidak bisa hidup secara tertib teratur dan bahkan tidak mampu membangun sebuah negara, tetapi dengan alasan politik juga kita seringkali menunggangi agama dan memanfaatkannya.      

3.     Sikap Fanatisme

Di kalangan Islam, pemahaman agama secara eksklusif juga ada dan berkembang. Bahkan akhir-akhir ini, di Indonesia telah tumbuh dan berkembang pemahaman keagamaan yang dapat dikategorikan sebagai Islam radikal dan fundamentalis, yakni pemahaman keagamaan yang menekankan praktik keagamaan tanpa melihat bagaimana sebuah ajaran agama seharusnya diadaptasikan dengan situasi dan kondisi masyarakat. Mereka masih berpandangan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar dan dapat menjamin keselamatan menusia.

Pandangan-pandangan semacam ini tidak mudah dikikis karena masing-masing sekte atau aliran dalam agama tertentu, Islam misalnya, juga memiliki agen-agen dan para pemimpinnya sendiri-sendiri. Islam tidak bergerak dari satu komando dan satu pemimpin. Ada banyak aliran dan ada banyak pemimpin agama dalam Islam yang antara satu sama lain memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang agamanya dan terkadang bertentangan. Tentu saja, dalam agama Kristen juga ada kelompok eksklusif seperti ini. Kelompok Evangelis, misalnya, berpendapat bahwa tujuan utama gereja adalah mengajak mereka yang percaya untuk meningkatkan keimanan dan mereka yang berada “di luar” untuk masuk dan bergabung. Bagi kelompok ini, hanya mereka yang bergabung dengan gereja yang akan dianugerahi salvation atau keselamatan abadi. Dengan saling mengandalkan pandangan-pandangan setiap sekte dalam agama teersebut, maka timbullah sikap fanatisme yang berlebihan.

Pamela Espland dalam bukunya yang berjudul Buku Pintar Ramaja Gaul menuliskan 9 (sembilan) alasan bagi para remaja untuk pergi ke rumah ibadah atau menghadiri pertemuan-pertemuan keagamaan, yaitu sebagai berikut :

a)     Komunitas religius mengurangi tindakan-tindakan penuh resiko. Remaja yang aktif dalam kegiatan keagamaan memiliki risiko yang lebih kecil untuk terkena pengaruh negatif pergaulan, seperti penggunaan obat-obat terlarang, pergaulan bebas, dsb, dibandingkan dengan remaja yang tidak bergabung dengan komunitas keagamaan.

b)      Komunitas religius mengajarkan nilai-nilai.  Nilai-nilai kebaikan ini akan mengarahkan para pengambilan keputusan yang bertanggung jawab dan membuat pilihan-pilihan positif.

c)     Komunitas religius tidak memiliki batasan usia. Tiadanya batasan usia membuat kita dapat bertemu dengan orang-orang dari berbagai tingkatan usia.

d)     Komunitas religius menyediakan perlindungan dan sandaran. Kamu akan menjalin hubungan dengan guru-guru pelajaran agama, pemimpin kaum muda, rekan sebaya, keluarga, dan pembimbing yang peduli padamu dan selalu siap membantu pada saat senang dan susah.

e)     Komunitas religius menaruh harapan tinggi pada kaum muda. Pemahaman akan potensi besar membuat komunitas religius selalu memotivasi dan memfasilitasi remaja untuk tumbuh dan berkembang menjadi dewasa, sukses dan berprestasi.

f)      Komunitas religius menyediakan kesempatan agar kamu menjadi anggota kelompok yang bisa berkontribusi.

g)     Komunitas religius mendorong kamu untuk melayani orang lain. Orang yang terbaik adalah orang yang paling banyak memberikan manfaat bagi orang lain.

h)     Komunitas religius memupuk kemampuan bersosialisasi dan sifat kepemimpinan. Komunitas ini memberi kesempatan pada remaja untuk memimpin, merencanakan program, menjadi pemimpin agama bagi rekan-rekan sebaya dan anak yang lebih muda melalui kegiatan positif.

i)      Komunitas religus menawarkan stabilitas. Sesuatu yang dibuat oleh manusia pasti akan mengalami perubahan. Hanya nilai-nilai dan ajaran agama yang berasal dari Tuhan yang tidak akan pernah berubah.

 

 

 

Kamis, 07 September 2023

CARA BELAJAR EFEKTIF DAN EFESIEN

            A.    Pengertian Belajar

 Belajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan secara sadar untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari. Menurut James O. Wittaker belajar dapat didefinisikan sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. sedangkan menurut Cronbach belajar yang efektif adalah melalui penglaman. Dan menurut Howard L. Kingsley belajar adalah proses dimana tingkah laku (dalam arti luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktek dan latihan.

Belajar dikatakan sebagai suatu proses karena perubahan tingkah laku yang terjadi melalui suatu tahapan-tahapan yang pada akhirnya menjadi suatu hasil belajar. Misalnya: Seorang anak yang ingin dapat berjalan, maka ia mulai dilatih oleh orangtua, merangkak, berdiri,dituntun untuk mulai melangkah yang pada akhirnya si anak bisa mulai berdiri dan mulai sedikit demi sedikit melangkahkan kakinya dan kemudian ia mulai dapat berjalan dengan sempurna.

Demikian juga bila seorang siswa ingin mengetahui,dapat serta memahami sesuatu dengan baik maka ia harus melalui proses yang disebut proses belajar. Proses belajar akan menghasilkan perubahan yang bersifat “Intensional (disengaja)”,positif,aktif,efisien,efektif dan fungsional.


B.  Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

   Belajar itu merupakan aktivitas fisik dan mental yang tidak berdiri sendiri, tetapi keberhasilan belajar ditentukan oleh banyak faktor. Faktor-faktor itu bisa berasal dari dalam diri sendiri (faktor Internal) dan faktor dari luar (faktor eksternal). Faktor-faktor tersebut diantaranya :

Kondisi internal

Kondisi ini adalah kondisi yang berasal dari dalam diri siswa yang meliputi :

1.   Fisik atau Jasmaniah, artinya apabila secara umum kondisi seseorang apabila dikatakan sehat,maka akan mempengaruhi aktivitas dan hasil belajarnya. Misalnya : siswa kondisi sakit secara tiba-tiba terjadi sakit kepala,sakit perut, siswa sedang menjalani perawatan operasi, amandel,jantung,paru-paru,kecelakaan lalu lintas sejenisnya

2.    Psikis atau Kejiwaan, artinya apabila kondisi kejiwaan seseorang dalam belajar kurang stabil,maka akan mempengaruhi aktivitas belajar dan hasil belajarnya. Misalnya : Siswa diliputi rasa ketakutan, kecemasan, adanya konflik-konflik batin, diliputi rasa kekecewaan,serta gangguan psikis lainnya.

3.   Adanya Kemauan ( Niat ) yang muncul dari daalam diri individu. Dan kemauan atau niat tersebut benar-benar tulus. Maka akan mempengaruhi aktivitas belajar dan hasil belajarnya..Misalnya : Siswa niat belajar dengan sungguh-sungguh karena belajar/ sekolah itu merupakan suatu kebutuhan diri sendiri apabila ingin mencapai masa depan yang gemilang. Siswa juga berniat bahwa : “saya harus menjadi orang yang sukses dan berhasil dalam sekolah dan karir saya”. “Saya tidak boleh bermalas malasan dalam hidup ini, saya harus bekerja keras”.

4.      Kecerdasan ( IQ)

Faktor kecerdasan (IQ) ini juga sangat mempengaruhi aktivitas dan hasil belajar seseorang. Seseorang yang dikategorikan mempunyai IQ Normal (100-110) menurut hasil psykhotes),maka ia disimpulkan akan mampu mengikuti belajar di sekolah-sekolah umum dengan lancar, selama ia tidak mengalami gangguan-gangguan lainnya. Demikian juga apabila seseorang mempunyai kecerdasan dibawah normal, tentunya akan mempengaruhi aktivitas dan hasil belajar disekolah jika dibanding dengan seseorang yang berkecerdasan normal.

5.    Minat

Minat juga menentukan aktivitas dan hasil belajar seseorang. Minat adalah tertarik yang kuat terhadap obyek tertentu. Apabila seseorang dalam belajarnya sudah tidak mempunyai rasa ketertarikan yang kuat terhadap obyek yang dipelajari tentunya aktivitas dan hasil belajar yang dicapai juga tidak optimal. Demikian juga sebaliknya. Oleh karena itu perlu seseorang terus menerus untuk belajar mencintai,menyenangi suatu obyek belajar sehingga pada akhirnya mampu dengan seutuhnya tertarik yang kuat dan mencintai dengan setulus-tulusnya obyek belajar tersebut, yang pada akhirnya motivasi belajar semakin meningkat untuk mencapai keberhasilan dalam belajarnya.

    6.      Motivasi

Motivasi adalah dorongan yang ada dalam diri seseorang untuk mencapai suatu hasil tertentu. Motivasi bisa dikelompokkan menjadi dua, yaitu motivasi internal dan motivasi eksternal. Motivasi Internal adalah dorongan yang muncul dari dalam diri seseorang. Misalnya ; Belajar adalah suatu kebutuhan untuk masa depan, dan sejenisnya. Sedangkan motivasi eksterinsik adalah dorongan yang dilakukan oleh seseorang karena adanya faktor dari luar. Kedua motivasi tersebut mungkin sudah dilaksanakan baik oleh orang tua, guru atau suatu lembaga. Alangkah baiknya seseorang memiliki motivasi internal yang kuat, sehingga aktivitas dan hasil belajar yang diharapkan dapat tercapai. 

Kondisi Eksternal

Kondisi eksternal meliputi kondisi lingkungan di mana siswa berada. Kondisi lingkungan adalah keadaan alam sekitar siswa yang mempengaruhi kegiatan belajarnya baik lingkungan personal maupun lingkungan material (sarana prasarana). Kondisi eksternal tersebut yaitu :

1.      Sarana dan Prasarana

    Sarana prasarana penunjang keberhasilan belajar juga mempengaruhi aktivitas dan hasil belajar seseorang. Sarana dan prasarana ini juga bisa dari siswa dan dari lembaga pendidikan. Misalnya di rumah mempunyai sarana dan prasarana penunjang keberhasilan belajar, sedangkan di sekolah sarana dan prasarana penunjang belajar juga lengkap. Sarana dan prasarana belajar misalnya ; buku-buku paket, buku catatan,ruang laboratorium, komputer, laptop, conect internet (hotspot), dan sejenisnya

2.      Lingkungan Sekitar

    Lingkungan dimana individu tinggal dan lingkungan bermain individu akan sangat mempengaruhi aktivitas dan hasil belajar. Apabila lingkungan sekitar sangat mendukung kemajuan individu, maka keberhasilan belajar dapat tercapai. Ada 3 hal yang mendukung terhadap cara belajar efektif diantaranya :

a)      Belajar Mandiri

Yaitu sebuah konsep pembelajaran atas inisiatif sendiri bukan belajar sendiri, kedua hal itu sangat berbeda artinya, yang benar adalah belajar atas inisiatif diri sendiri karena dengan begitu diri kita akan merasa teringat akan hal yang kita pelajari karena kita tertarik pada hal tersebut.

b)      Media belajar

Media belajar adalah sebuah sarana kita yang akan membantu kita dalam belajar karena kita tinggal membaca dari media itu sehingga kita sudah tinggal memahami hal tersebut ini juga butuh kita cari sesuai yang akan kita pelajari. Bentuk sumber belajar banyak diantaranya ; buku, transparansi, film dengan topik tertentu, internet, dan sebagainya.

c)      Strategi atau cara belajar

Strategi belajar efektif sangat penting untuk mencapai presatasi belajar yang ingin dicapai. Berikut adalah beberapa strategi dalam belajar supaya efektif dan efisein, diantaranya :

            C.  Strategi Belajar Efektif 

Cara belajar efektif  untuk pelajaran yang di berbasis teoritis:

1.      Ciptakan suasana belajar yang nyaman

Ada banyak cara untuk menciptakan suasana belajar yang nyaman, tergantung gaya belajar yang sesuai dengan Anda, ada yang belajar sambil mendengarkan musik, suasana hening, belajar di tempat-tempat yang sejuk dan nyaman seperti di taman, di sawah, di perkebunan, dll.

2.      Merangkum Materi Pelajaran atau Membuat Mind Mapping.

Kegiatan ini sangat penting. Kenapa? Karena jika anda membaca 1 buku maka akan butuh waktu yang sangat lama untuk menyelesaikan. Carilah intisari dari pelajaran tersebut kemudian dipahami

3.      Metode mempersingkat atau memodifikasi menyerupai nama sesuatu

Untuk mempermudah hafalan, Anda bisa gunakan singkatan nama-nama yang hampir mirip untuk mengingat materi. Ini sangat efektif digunakan dan otak tidak terbebani dengan hafalan-hafalan berat.

4.      Mengingat yang Dipelajari

Setelah belajar beberapa waktu. Tutuplah buku pelajaran tersebut dan Anda bisa memejamkan mata untuk menggambarkan yang dibaca

5.      Belajar rutin tapi jangan lama

Dengan rutin belajar Anda akan semakin mudah untuk mengingat hal yang sudah Anda pelajari. yang perlu Anda lakukan adalah "belajar rutin" bukan "Terlalu lama belajar". 

Cara belajar efektif  untuk pelajaran yang di berbasis matematis (eksakta):

1.      Ciptakan suasana belajar yang nyaman

Ada banyak cara untuk menciptakan suasana belajar yang nyaman, tergantung gaya belajar yang sesuai dengan Anda, ada yang belajar sambil mendengarkan musik, suasana hening, belajar di tempat-tempat yang sejuk dan nyaman seperti di taman, di sawah, di perkebunan, dll.

2.      Merangkum Materi Pelajaran atau Membuat Mind Mapping.

Kegiatan ini sangat penting. Kenapa? Karena jika anda membaca 1 buku maka akan butuh waktu yang sangat lama untuk menyelesaikan. Carilah intisari dari pelajaran tersebut kemudian dipahami

3.      Belajar dengan Memahami Bukan Menghafal

Hal yg paling sering dilakukan oleh siswa ketika ingin menghadapi ujian adalah menghafal. Sebenarnya tidak salah hanya saja kurang efektif. Untuk lebih efektifnya adalah dengan memahami teori pelajarannya.

4.      Belajar dengan Praktik

Mempraktikan semua materi yang pernah diajarkan oleh guru akan membuat Anda jauh dari kebosanan dan membuat suasana belajar lebih menyenangkan. Misalnya pelajaran IPA, Fisika, Matemtika (eksakta), dll.

5.      Belajar secara berkelompok

Belajar secara berkelompok ini sangat penting untuk meningkatkan minat dan semangat belajar. Dengan teman sebanya akan lebih leluasa mendiskusikan hal-hal sulit yang tidak mereka pahami. Dengan demikian akan mempunyai semangat untuk belajar tanpa ada rasa malu/minder.

Cara belajar efektif  untuk pelajaran yang ada praktikumnya:

1.   Pahami teorinya untuk setiap mata pelajaran yang dipraktikkan sesuai dengan kompetensi keahlian yang dipilih.

2. Buat peta pikiran (mind mapping) untuk memudahkan memahami dan mempraktikan teorinya, sehingga ketika dipraktikan akan lebih cepat untuk dipahami.

3.  Perhatikan setiap instruksi/arahan dari guru atau instrukur praktikum dengan benar, ikuti setiap tahapannya dan jangan lupa bertanya apabila ada sesuatu yang Anda belum pahami.

4.  Pelajari dan pahami betul setiap tahapan dalam praktikum, karena praktikum ke-1, ke-2 dan seterusnya saling terkait. Apabila tahapan praktikum ke-1 tidak Anda pahami, maka akan berpengaruh terhadap semangat dan kelancaran praktikum berikutnya.

5.   Pelajari ulang mind mapping setiap tahapan praktikum dan terus latihan praktik agar terbiasa terlatih sehingga memiliki kompetensi sesuai dengan keahliannya.


ETIKA BERGAUL

a.  Pengertian dan Perbedaan Etiket dan Etika

Etiket adalah aturan sopan santun dalam pergaulan. Mengabaikan sopan santun sering menimbulkan perselisihan atau kesalahpahaman. Etiket merupakan sarana/alat untuk kelancaran dalam pergaulan dan juga membantu dalam mencapai cita-cita kita.

Perbedaan Etiket dan Etika :

Etiket : berarti tata cara pergaulan yang baik antara sesama manusia. Berasal dari bahasa Perancis: Etiquette. Etika : berarti falsafah moral dan merupakan pedoman cara hidup yang benar dilihat dari sudut budaya, susila dan agama. Berasal dari bahasa Latin : Ectica.

Dasar-dasar Etiket :  

  • Sopan dan ramah kepada siapa saja
  • Memberi perhatian kepada orang lain
  • Ingin membantu
  • Memiliki rasa toleransi
  • Dapat menguasai diri, mengendalikan emosi dalam situasi

Tujuan Etiket : "Selalu berusaha untuk menyenangkan orang lain".
Manfaat Etiket dalam kehidupan manusia :

1.    Membuat seseorang disegani, dihormati, disenangi orang lain

2.    Mendapat kemudahan dalam hubungan baik dengan orang (better human relation)

3.    Memberi keyakinan pada diri sendiri dalam setiap situasi

4.    Dapat memelihara suasana yang baik dilingkungan keluarga, tempat kerja, dan antara teman

Perbedaan etiket timur dan barat

Dasar dari peraturan etiket adalah adat istiadat atau tradisi dari daerah dan negara tertentu, yang kadang-kadang berbeda dan bertentangan, seperti :

  • Cara bersalaman
  • Cara menatap mata sewaktu berjabatan tangan
  • Saat memberi sambutan
  • Saat menerima sesuatu (dengan menggunakan tangan kanan)

Selain mengetahui etiket bangsa sendiri, sebaiknya juga mengetahui sedikit tentang etiket bangsa-bangsa lain. Sebab hal itu akan melancarkan komunikasi dan kemampuan kita untuk menyesuaikan diri kepada lingkungan tempat kita berada.

Pergaulan adalah interaksi antar individu, bisa bersifat luas yakni pergaulan dengan banyak orang atau “frekuen”, yaitu sering bergaul dengan orang lain. Dunia pergaulan identik dengan dunia remaja pada umumnya. Sering kita dengar istilah “kuper”, Kurang Pergaulan disebut-sebut. Keterampilan bergaul dapat dilihat sejak kanak-kanak hingga dewasa. Ketika masih kanak-kanak seseorang suka berkenalan dengan cara yang paling sederhana, tersenyum dan menyapa kawan-kawan yang baru dijumpainya, maka seseorang tersebut akan memiliki keterampilan berkenalan, lama kelamaan mulai terlihat bahwa dirinya paling menonjol diantara teman sebayanya. Ini merupakan awal terbentuknya rasa percaya diri dengan dunia pergaulan di lingkungannya, yaitu dunia anak. Sampai saatnya seseorang memasuki dunia remaja dan dewasa, untuk belajar bergaul sesuai dengan usianya, oleh karena pergaulan juga akan membawa kesuksesan di masa yang akan datang.

b.  Tata Cara Berkenalan

       Berikut ini tata cara dalam berkenalan, diantaranya :

    1.  Memperkenalkan orang dengan mengucapkan namanya dengan jelas.

    2.  Memberikan sedikit informasi tentang orang yang diperkenalkan

    3.  Personal contact:

  • Cara berjabat tangan sekitar 3-4 detik
  • Melihat mata yang bersangkutan
  • Senyum
  • Tubuh sedikit ke depan apabila tidak dapat terdengar nama dengan jelas, boleh bertanya lagi

    Perkenalan :

  • Yang lebih muda diperkenalkan kepada yang lebih tua
  • Umumnya seorang pria diperkenalkan kepada wanita
  • Wanita diperkenalkan kepada pria, apabila pria itu orang penting yang perlu dihormati,            seperti: Kepala Negara, Menteri, Gubernur, Duta Besar negara asing, Ulama/Tokoh agama,             atau pria jauh lebih tua dari wanita.

  Berdiri Dari Tempat Duduk:

  • Wanita tidak harus berdiri waktu berkenalan, kecuali bila menghadapi orang-orang yang pantas dihormati
  • Tuan dan Nyonya rumah selalu harus berdiri untuk menyambut tamunya
  • Apabila tamu akan pulang, tuan dan nyonya rumah harus berdiri dan mengantar tamu sampai di pintu

Khusus Pria :

Harus berdiri dari tempat duduk:

  • Bila berjabatan tangan (dengan pria dan wanita)
  • Bila seorang wanita masuk dalam ruangan
  • Bila seorang wanita mendekati, saat ia duduk
  • Bila seorang wanita yang duduk di sampingnya berdiri dan akan meninggalkan tempat

Etika Dalam Penampilan

1.    Sikap Duduk : Tidak memakan seluruh badan kursi dan tidak bersandar penuh, posisi dada tegak, kedua tangan tidak berada di pegangan kursi, tinggi kaki tidak bersilang, tidak meletakkan tangan di meja lawan bicara.

2.    Cara Berjalan : Badan tegak, posisi dagu sejajar dengan lantai, tangan tidak di dalam saku, tidak membungkuk serta Tidak tergesa-gesa atau terlalu lamban.

3.    Ekspresi Wajah : Tidak cemberut, memberi perhatian

4.    Cara Berjabat Tangan : Menyentuh dengan mantap, jabat seluruh badan telapak tangan, tidak berkesan ragu

5.    Kontak Mata : Memandang pada batas wajah hingga leher, pandang mata lawan bicara, tidak melirik ke atas dan samping ketika berpikir, beri pandangan yang menyenangkan

6.    Gerak Tangan : Tidak mengangkat tangan ketika berbicara layaknya berpidato, lengan tidak diangkat lebih dari 90 derajat, tidak menunjuk dengan jari ketika memberi penjelasan arah/tempat, tidak menggerakkan jari ketika berkomunikasi

7.    Senyum : Tidak senyum terlalu lebai serta Tidak menunjukkan raut muka sinis, senyum diikuti dengan eye contact dan gerakan kepala

c.   Etiket dalam Percakapan (Conversation)

Seni pembicaraan adalah bukan mengetahui sesuatu yang harus dikatakan, melainkan sesuatu yang tidak boleh dikatakan.

Hal yang diperlukan untuk dapat berbicara secara efektif:

  • Rasa percaya diri yang kuat
  • Keluwesan dalam pergaulan
  • Mempunyai persepsi yang tepat terhadap keadaan lingkungan dan individu yang terlibat dalam interaksi tersebut
  • Dapat menguasai situasi
  • Mengetahui hasil yang diharapkan dari interaksi

Hal-hal yang dihindarkan dalam percakapan :

  • Memotong pembicaraan orang lain
  • Memonopoli pembicaraan atau percakapan
  • Membual tentang diri sendiri
  • Membicarakan hal-hal yang dapat menimbulkan pertentangan
  • Pembicaraan tentang penyakit, kematian, dan lain-lain
  • Menanyakan harga barang orang lain
  • Menanyakan masalah yang sifatnya pribadi
  • Gosip atau berita yang belum tentu kebenarannya

Etiket dalam Bekerja

Setiap orang harus menyadari bahwa penghayatan tata krama dalam lingkungan kantor/tempat bekerja adalah amat penting, karena bertujuan:

  • Memelihara suasana yang menyenangkan
  • Menimbulkan rasa saling menghargai
  • Meningkatkan efisiensi kerja
  • Meningkatkan citra pribadi dan citra perusahaan

Karyawan dan karyawati yang profesional perlu memperhatikan :

1.   Penampilan pribadi yang rapi dan bersih (busana, sepatu, wajah, rambut, kuku)

2.   Pengendalian sikap tubuh

3.   Pengendalian suara

4.   Menggunakan bahasa yang baik (lisan maupun tertulis)

5.   Memelihara suasana yang formal

6.   Menepati janji

7.   Menepati waktu

Menghadap atasan atau pejabat :

  • Berpakaian rapi
  • Ketuk pintu sebelum masuk
  • Ucapkan salam
  • Tunggu atasan atau pejabat mengulurkan tangan
  • Tunggu dipersilahkan duduk
  • Bicara dengan suara yang jelas, tidak terlalu keras tetapi juga tidak terlalu lembut
  • Bicara seperlunya saja
  • Mengakhiri pembicaraan dengan mengucapkan terima kasih
  • Jika atasan tidak mengulurkan tangan, kita cukup membungkukkan badan sedikit

Cara menerima tamu di kantor atau tempat bekerja :

  • Apabila dengan perjanjian, tepat waktu dan apabila keluar kantor harus memberitahukan dan  minta maaf apabila akan terlambat
  • Apabila tamu masuk Anda hendaknya berdiri, senyum dan bersalaman
  • Bila ada pegawai lain di kantor, Anda perkenalkan selamat datang  "Welcome"
  • Kadang-kadang perlu kontak pribadi (small talk) sebelum berbicara sesuatu. Perlu atau tidak        anda yang menentukan berdasarkan intuisi
  • Usahakanlah untuk tidak menerima telepon apabila sedang menerima tamu,  kecuali terlalu          penting dan minta maaf
  • Layani dengan sopan, ramah dan bersikap membantu
  • Antar tamu sampai pintu

Ciri Orang-Orang yang Menghayati Tata Krama yang Baik :

  • Memiliki rasa percaya diri pada waktu menghadapi masyarakat dari tingkat manapun
  • Segala tingkah laku dan ucapannya mencerminkan perhatian kepada orang lain
  • Sopan, ramah, selalu menunjukkan sikap yang menyenangkan kepada siapa saja
  • Dapat menguasai diri, selalu berusaha tidak menyinggung perasaan orang lain, menyakiti atau mengganggu pikiran orang lain
  • Usahakan tidak membuat kecewa, gusar apalagi membuat marah orang lain, walaupun diri sendiri baru atau sedang dalam keadaan sedih, kesal, lelah atau jenuh